Warnoto Fisika

Lulusan UNY tahun 2000 dari Pendidikan Fisika FMIPA, mengajar di SMA N 1 Subah Kab. Batang Jawa Tengah. Minat pada bidang Teknologi, Arsitektur dan Keagamaan...

Selengkapnya
Palango: Antara Bahagia dan Gelo

Palango: Antara Bahagia dan Gelo

"Palango" adalah bahasa Jawa lokal pesisir. Dalam bahasa Indonesia berarti melakukan tindakan segera sebelum terjadi kemungkinan yang lebih buruk. Adapun "gelo" semakna dengan kata menyesal, kecewa. Dalam alur logika, "palango" adalah langkah yang paling tepat. Meskipun, nantinya ada rasa sedikit kecewa jika yang dikhawatirkan tidak benar benar terjadi. Namun juga bahagia lantaran kejadian buruk tidak menimpa. Tindakan "palango" biasanya harus diambil karena kita belum memiliki informasi yang lengkap tentang suatu fenomena. Tujuannya adalah memilih keadaan yang paling aman. Biasanya hal ini terkait dengan urusan hajat hidup, kesehatan atau hal yang dianggap darurat. Dalam kehidupan sehari-hari pasti kita akan berhadapan dengan masalah "palango" ini, baik berupa hal kecil sampai sesuatu yang betul betul darurat. Ketika berangkat ke kantor misalnya, motor "palango" diisi bensin dulu daripada kehabisan di tengah jalan. Demikian juga dompet "palango" diisi sedikit melebihi kebutuhan real untuk berjaga jaga. Tindakan "palango" sangat penting untuk urusan kesehatan, sebagaimana saya pernah mengalaminya. Pertama, ketika anak saya yang sulung sakit demam tinggi. Sore hari saya bawa ke dokter keluarga, pas hari Sabtu. Dokter menduga anak saya terkena Demam Berdarah (DB). Makanya beliau merujuk tes darah ke laboratorium. .Tentu saja laboratorium hanya ada di kota dan bukan milik rumah sakit pemerintah karena saat itu sudah di luar jam kerja. Padahal dalam keyakinan saya rasanya tidak mungkin kalau didiagnosa DB sebab kampungku bukan daerah endemik. Ya sudahlah ikuti saja saran Bu Dokter. Maka, malam sekitar isya anak sambil menahan dingin karena demam dan udara malam saya boncengkan menuju laboratorium menyusuri Pantura. Proses cek darah sekitar satu jam. Akhirnya dokumen hasil laboratorium saya terima meski harus menebus tiga ratusan ribu rupiah karena tidak bisa menggunakan layanan jaminan kesehatan. Namun ada rasa bahagia manakala dokumen itu saya intip karena apa yang dikhawatirkan dokter ternyata tidak terbukti. Hanya ada indikasi positif terinfeksi bacteria typosa. Seiring rasa bahagia muncul juga sebersit rasa gelo. "Coba kalau gak harus cek darah khan gak keluar uang banyak. Toh hanya gejala typus". Gumam hati kecilku. Tapi, akal sehat harus dikedepankan sehingga kita harus menerima semua resiko. Akhirnya kami pun langsung pulang tanpa kembali ke dokter karena aku telah yakin akan diagnosanya. Kami biasa menghadapi serangan typus pada anggota keluarga. Kami mempunyai resep andalan. Contoh kedua, adalah ketika anak kedua saya yang di pondok dikabarkan sakit. Awalnya saya dikirimi ulang pesan Whatsapp dari isteriku yang mendapat pesan itu dari teman wali santri. Beliau mendapat aduan dari anaknya bahwa anak saya sakit. Seharian ia hanya berbaring saja. Matanya juga kelihatan kuning. Kalimat terakhir inilah yang membuat saya harus "sipat kuping". Sebagaimana saya ingat, beberapa hari sebelumnya saya telah menghadiri undangan pihak pondok pada kegiatan sosialisasi kesehatan dengan Nara sumber dari jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten. Selaras telah tersebarnya isu bahwa komplek pondok sedang terserang wabah hepatitis, sosialisasi tersebut salah satunya menjelaskan gejala-gejala penyakit itu serta klarifikasi kejadian. Gejala yang dimaksud diantaranya adalah sakit di sekitar perut, pucat dan mata menguning. Maka, meski saya berusaha tetap tenang dengan tidak langsung menuruti ajakan isteriku untuk segera menjenguknya, sejatinya tetap khawatir juga. Saat itu memang bakda Asar, pertanda sebentar lagi jam kerja berakhir. Dalam pikiran masih berjalan hitung - hitungan waktu tentang kemungkinan kami dapat segera menjenguknya. Memang dalam pertimbangan keamanan perjalanan idealnya adalah esok hari dan kalau ada apa-apa masih cukup waktu untuk bertindak. Namun, dengan pertimbangan "palango" akhirnya kami putuskan langsung menjenguknya sepulang kerja. Saat itu sudah lewat pukul lima sore. Saya memprediksi tidak bisa mendapati waktu maghrib di pondok. Waktu tempuh perjalanan normal hampir satu jam, lebih-lebih ini menjelang maghrib, tidak mungkin melalui jalur alternatif. Jalur utama pun pasti padat. Maklum harus melalui pusat kota. Benar saja. Semua dugaan terbukti. Kami harus shalat maghrib menjelang akhir waktu karena tidak menemukan mushola di tengah kota yang mudah disinggahi. Akhirnya harus shalat di masjid dekat wilayah pondok. Usai shalat kami langsung meluncur ke pondok sekitar lima menit perjalanan. Terlihat, secara bergilir para santri menuju tempat makan. Saya berharap dapat bertemu anak ku ikut mengantre. Menit demi menit tak terlihat juga. Akhirnya saya melihat teman kamarnya sedang berlalu, saya hentikan sembari menanyakan kondisi anakku. "Seharian hanya berbaring". Katanya. Dengan itikad baik saya ingin menemui salah satu pengasuh, menanyakan kondisi, langkah yang telah diambil, serta tindakan selanjutnya bagaimana. Saya pun mendekati lobi dan mengutarakan maksud kepada santri yang berjaga. Santri ini akhirnya merespon masuk ke dalam. Cukup lama kami menunggu. Pengasuh belum ada yang keluar. Santri yang jaga tadi juga bolak-balik ke dalam. Mungkin mencari informasi atau bantuan temannya. Akhirnya dia mengabarkan bahwa pengasuh tidak dapat ditemui dengan alasan kemungkinan sedang sakit. Tidak berapa lama kulihat anakku dengan berjalan terseok menghampiri kami. Mungkin teman kamarnya telah memberi tahu kedatangan kami. Seperti biasa, tidak banyak informasi yang kami dapatkan dari mulutnya kecuali linangan air mata. Saya hanya menanyakan hal terpenting apakah seharian ia sudah makan. Ternyata belum. Bergegaslah isteriku membelikan roti sekedar mengganjal perutnya. Setelah cukup sekedar melepas kangen segera kami menuju Rumah Sakit Islam yang kebetulan hanya berjarak beberapa ratus meter dari pondok. Tentunya setelah memberitahukan kepada santri yang berjaga tentang kepergian kami. Awalnya saya agak kecewa atas prosedur pelayanan di rumah sakit ini. Saya harus mengantre di loket pendaftaran layaknya pasien reguler padahal ini UGD. Di rumah sakit lain pasien yang datang langsung ditangani sembari proses mendaftar. Proses mendaftar selesai, saya kembali ke ruang UGD dan mendapati dokter jaga sudah mengobservasi. Saya konsultasikan segala kemungkinannya dan disarankan untuk cek darah. Kami pun menuju laboratorium dan harus banyak bertanya untuk menemukannya. Maklum ini bukan rumah sakit di kotaku. Proses cek selesai dan disuruh menunggu hasilnya sampai satu jam. Di tengah-tengah proses tentu saya telah bolak-balik menuju kasir sekedar menunjukkan nota dan menyerahkan sementara kartu jaminan kesehatan. Sempat juga mencari nasi bungkus walau tidak sempat memakannya. Yang penting anak dan isteriku masih sempat makan malam. Sekitar pukul 21 hasil lab sudah kuambil dan konsultasi kembali ke dokter. Dokter hanya berkata: "Mungkin akibat sering telat makan." Seketika rasa bahagia pun hadir. Sementara rasa gelo sekedar Samar-samar saja. Lebih-lebih setelah penyelesaian administrasi di kasir ternyata hanya membayar secara wajar meski tidak bisa mengklaim jaminan kesehatannya . Menurutku sangat murah. Alhamdulillah anakku hanya sakit mag. Bagaimana dengan matanya yang menguning? Rupanya hal itu merupakan efek dari kegiatan renang di pagi harinya. Karena dari rumah sakit mendapat obat antibiotik, untuk memastikan tidak terlewat meminumnya anakku kami bawa pulang beberapa hari dengan pemberitahuan ijin melalui whatsapp ke pengasuhnya. Itulah tindakan "palango" untuk berjaga-jaga. Semoga kita termasuk orang tua yang tidak abai terhadap amanah yang dititipkan-Nya (*)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post