Warnoto Fisika

Lulusan UNY tahun 2000 dari Pendidikan Fisika FMIPA, mengajar di SMA N 1 Subah Kab. Batang Jawa Tengah. Minat pada bidang Teknologi, Arsitektur dan Keagamaan...

Selengkapnya
Fisika tak Kan Kolaps meski tidak di Lab

Fisika tak Kan Kolaps meski tidak di Lab

Ini adalah artikel saya yang terbit di Jawa Post Radar Semarang pada hari ini. Terdapat perbedaan tentang judul dan hilangnya paragraf terakhir. Judul di atas adalah sesuai aslinya, sementara yang di foto adalah versi koran. Saya memaklumi terjadinya pengantian judul ini karena untuk memudahkan Tim Penilai secara cepat menangkap kesesuaian tema tulisan dengan ranah bidang kerja saya. Akhirnya artikel ini diberi judul :” Mengoptimalkan Potensi Laboratorium Alam" dari judul sebelumnya sebagaimana tertulis di Gurusiana ini. Artikel aslinya dapat dibaca di bawah ini.

Diakui atau tidak aktivitas di laboratorium berupa praktikum adalah kejadian langka. Dalam satu semester seorang guru paling banyak menyelenggarakan pembelajaran dalam bentuk praktikum tak akan lebih dari tiga kali. Hal itu biasanya terkait dengan manajemen waktu. Sebagaimana diketahui untuk terselenggaranya suatu praktikum butuh persiapan yang matang, baik menyangkut perencanaan maupun penyiapan alat dan bahan. Lebih lebih tidak setiap sekolah memiliki laboran. Andai ada laboran pun belum tentu memiliki kompetensi yang diharapkan.

Disamping itu ada beberapa alasan mengapa kegiatan praktikum di laboratorium jarang dilaksanakan. Pertama, sekolah belum memiliki ruang laboratorium. Kasus ini biasanya terjadi di sekolah-sekolah baru yang masih dalam tahap pengembangan. Kedua, ruang laboratorium belum dilengkapi peralatan yang memadai. Ini jua terjadi di sekolah baru ataupun sekolah yang masih pengembangan. Ketiga, ruang laboratorium dialihfungsikan sementara. Kalau kasus ini banyak terjadi di sekolah yang cukup berumur dan sedang proses renovasi atau pengembangan. Alih fungsi biasanya untuk penggunaan Ruang Perpustakaan, Ruang Kelas, Sekretariat Kegiatan, dan Ruang Kantor Mahasiswa PPL .

Sementara itu mata pelajaran Fisika sebagai bagian dari sains memiliki karakteristik kealaman. Ia dekat dengan alam karena dibangun atas landasan fakta kejadian di alam. Prosedur ilmiah dan cara berfikir ilmiah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Lalu

dengan minimnya aktivitas laboratorium apakah pembelajaran fisika menjadi kehilangan makna ?

Fisika akan kehilangan makna atau tidak tentu bergantung kepada guru sebagai fasilitator belajar peserta didik. Guru yang kurang kreatif akan menerima keadaan dan justeru menjadikan pembenaran untuk meninggalkan aktivitas laboratorium. Akhirnya fisika akan dipelajari secara teoritik. Di sini muncul istilah Fisika Sastra di kalangan guru sebagai bahan olok-olok.

Sebenarnya jika guru kreatif ada tiga potensi yang dapat dioptimalkan dalam pembelajaran fisika agar tetap bermakna yaitu: (1) fase perkembangan kognitif peserta didik, (2) pengalaman sehari-hari peserta didik tentang fakta-fakta fisika dan (3) pengembangan laboratorium alam.

Pada potensi pertama, kenyataan bahwa usia peserta didik di jenjang SLTA adalah dalam rentang enam belas sampai dua puluh tahun, jauh di atas batas bawah stadium operasional formal menurut Piaget. Stadium ini diawali usia sebelas tahun. Piaget (Sri Rumini dkk: 1997) mendiskripsikan skema mental anak dalam fase ini sudah tidak terikat, sudah dapat terlepas dari kontek ruang dan waktu. Artinya anak sudah dapat berfikir secara abstrak. Dengan demikian Anak dapat diajak berkomunikasi tentang pengalamannya, atau mempredikisi peristiwa berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya.

Pada potensi kedua, anak sudah memiliki bank peristiwa yaitu rekaman tentang fakta peristiwa, dan fenomena yang diindera atau dialami anak, yang direkam sepanjang hidupnya selama belasan tahun di dalam memori otaknya. Da;am kontek pembelajaran apa yang dimiliki anak ini dapat digolongkan sebagai pengetahuan awal. Pengetahuan awal peserta didik menurut Budi ( dalam I G. P. Sindu: 2015) dapat berupa pengetahuan ilmiah (scientific knowledge) yang resistan terhadap realita, pengetahuan sehari-hari (everyday knowledge), dan pengetahuan yang tidak akan tahan uji terhadap realita.

Pengetahuan awal peserta didik dapat dioptimalkan sebagai modal awal dalam membangun konsep yang benar tentang teori fisika. Tentu saja pemilihan pendekatan pembelajaran yang sesuai besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pembelajaran. Salah satu pendekatan yang memperhatikan pentingnya pengetahuan awal peserta didik adalah teori konstruktivisme Secara umum menurut Santyasa (dalam I G. P. Sindu: 2015) pengetahuan awal berpengaruh langsung dan tak langsung terhadap proses pembelajaran. Secara langsung, pengetahuan awal dapat mempermudah proses pembelajaran. Secara tidak langsung, pengetahuan awal dapat mengoptimalkan kejelasan materi-materi pembelajaran dan meningkatkan efisiensi penggunaan waktu belajar dan pembelajaran. Selain itu, pengetahuan awal mempengaruhi perasaan siswa dalam menilai informasi yang dipresentasikan dalam sumber-sumber belajar dan dalam kelas.

Namun demikian tidak jarang pengetahuan awal peserta didik adalah berupa konsep yang salah (miskonsepsi). Oleh karena itu hal yang ditekankan dalam pembelajaran adalah penempatan pemahaman konsep dan hubungan antar konsep, hubungan antara pengetahuan awal dan pengetahuan baru, dan belajar bermakna (Solaz-Portoles dan Lopez, 2007).

Dalam mengubah miskonsepsi siswa menuju konsepsi ilmiah dalam pembelajaran fisika, diperlukan strategi pengubahan konsep (conceptual change) yang tepat dan diberikan pada saat yang tepat pula. Pengubahan konsepsi dapat dilakukan dengan menyajikan konflik kognitif (cognitive conflict). Hal ini dilakukan secara hati-hati jangan sampal konflik kognitif yang disampaikan justru akan memperkuat stabilitas miskonsepsi siswa.

Menurut Sadia (dalam.M.Faiq Zaki: 2009 ) Konflik kognitif yang disajikan dalam proses pembelajaran harus mampu menggoyahkan stabilitas miskonsepsi peserta didik. Jika mereka sudah menjadi ragu terhadap kebenaran gagasannya, maka dapat diharapkan mereka akan mau merekonstruksi gagasan atau konsepsinya sehingga pada akhir proses pembelajaran di kepala siswa hanya terdapat sains baru yang berupa pengetahuan ilmiah.

Pada potensi ketiga, definisi laboratorium harus diperluas maknanya. Tidak terbatas pada ruang yang memiliki peralatan untuk kegiatan praktikum saja tetapi seluruh apa yang ada di lingkungan baik yang terjadi secara alami maupun buatan dapat difungsikan sebagai laboratorium. Pendek kata, apa yang ada di sekitar peserta didik adalah laboratorium. Inilah yang dikenal sebagai laboratorium alam.

Dalam definisi ini pada pembelajaran fisika guru dapat menemukan puluhan alat laboratorium di dalam kelas. Meja, kursi, tas , pot bunga dapat digunakan untuk memperagakan atau mempraktikkan konsep usaha. Kipas angin dan jam dinding adalah peraga yang tepat untuk mendiskusikan besaran dalam gerak melingkar. Sementara kerikil, penghapus, spidol dan kertas bisa sebagai peraga konsep benda jatuh dan kekekalan energi mekanik. Benang dan kerikil juga memiliki andil untuk memperjelas konsep percepatan dan gaya sentripetal. Suasana kelas ketika panas atau sedang sejuk bisa juga memberi pengalaman belajar tentang konveksi. Demikian juga membuka pintu dengan berbagai cara memberi pengalaman belajar tentang konsep torsi.

Disamping apa yang tersedia di kelas, apa yang terbawa peserta didik dari rumah juga merupakan peralatan laboratorium alam. Meskipun canggih semisal smartphone. Aplikasi google map dapat membantu memahami konsep vektor serta jarak dan perpindahan.

Mengoptimalkan laboratorium alam dengan pendekatan konstruktivisme misalnya dapat diterapkan dalam materi Fluida Dinamik. Peralatan dan bahan yang bisa digunakan adalah buku tebal yang dimanfaatkan fisiknya, demikian juga buku tipis, kertas, bandul bola ping-pong dan pancuran air kran. Konsep yang akan direkronstruksi adalah Asas Bernoulli. Kesalahan konsep awal digali dengan beberapa pertanyaan tentang kemana arah gerak benda yang diuji coba. Menuju tempat yang berkecepatan tinggi atau sebaliknya. Percobaan akan memberi kondisi yang berbeda antara dua tempat yaitu berkecepatan tinggi dan berkecepatan rendah. Di sini peserta didik memiliki jawaban hipotetik yang bisa diuji kebenarannya melalui percobaan ringan. Kebanyakan jawaban hipotetik peserta didik adalah salah. Siswa akan mendapatkan jawaban secara benar langsung dari hasil percobaannya. Percobaan dapat dilakukan sederhana misalnya menggantungkan bola pingpong di dekat pancuran kran air, meniup celah bagian bawah selembar kertas yang kedua ujungya bertumpu pada buku tebal, atau meniup bagian tengah dua kertas yang digantung. Fakta yang teramati tidak dapat disangkal oleh logika sehingga pesert didik harus merekonstruksi kesalahan konsepnya dan menerima konsep baru tentang Asas Bernoulli.

Dengan demikian mengoptimalkan potensi-potensi di atas peserta didik tetap mendapatkan pengalaman belajar yang baik meskipun bukan kegiatan prkatikum di laboratorium. Fisika tidak kolep meski bukan belajar di gedung lab.

http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/03/teori-belajar-konstruktivis-dalam.html Diakses 17 Maret 2019

http://duniatp.blogspot.com/2015/03/pengetahuan-awal-terbaik-dalam.html

Diakses 17 Maret 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post