Warnoto Fisika

Lulusan UNY tahun 2000 dari Pendidikan Fisika FMIPA, mengajar di SMA N 1 Subah Kab. Batang Jawa Tengah. Minat pada bidang Teknologi, Arsitektur dan Keagamaan...

Selengkapnya
Kompromi terhadap Godaan Mi

Kompromi terhadap Godaan Mi

Mi instan sudah menjadi bagian dari keluarga di Indonesia. Tidak sulit untuk menemukan bahan pangan ini. Bahkan, makanan mentah hasil pabrikasi ini telah mensubtitusi jenis makanan lain dalam beragam upacara budaya. Terutama, di kampung-kampung seputar saya tinggal. Bahan ini menggantikan berkat dalam upacara sedekah kematian. Ia juga hadir sebagai oleh-oleh bagi tetangga yang berkunjung untuk menyumbang dalam upacara pendirian rumah. Bahkan, mi ini berperan juga sebagai buah tangan sehabis mengunjugi tetangga atau kenalan yang punya hajat.

Di satu sisi makna instannya betul-betul berperan untuk mengurangi kerepotan orang yang punya hajat. Di sisis lain kegiatan saling membantu dan saling merasakan akan kehilangan ruhnya. Bayangkan, saat menghadiri hajatan sekarang kita tidak dibawakan jenis makanan yang disuguhkan dalam pesta itu. Malah kita membawa jenis makanan yang lain yang, makanan yang tidak digunakan dalam upacara hajatan tersebut. Ini adalah menyimpang dari niatan awal. Di jaman dulu, orang datang ke tetangga yang punya gawe dengan membawa bahan pangan atau uang maka saat pulang ia akan dioleh-olehi hasil masakan yang ada di sana. Masakan yang juga disuguhkan dalam pesta itu. Tujuannya adalah agar keluarga yang di rumah merasakan juga apa yang disediakan dalam pesta. Namun saat ini kejadiannya sunguh berbeda. Dengan alasan kepraktisan para tetangga yang datang cukup dioleh-olehi mi instan mentah. Suatu barang yang tidak digunakan sama sekali dalam pesta. Sungguh ironi.

Efeknya adalah menumpuknya bahan pangan ini di rak dapur terutama pada bulan-bulan saat ramai orang punya hajat. Mau dibiarkan saja tentu mubadzir. Diberikan ke kucing, dia menolak. Yah, terpaksa harus kompromi. Dimakan pelan-pelan. Untungnya barang ini awet sehingga tidak terburu harus segera diolah. Untungnya lagi bagi saya, anggota keluarga cukup banyak sehingga sekali memasak bisa menghabiskan enam bungkus sekaligus.

Memasak mi instan sebaiknya menggunak trik. Ini bertujuan untuk tetap menjaga kesehatan anggota keluarga. Banyak beredar opini di luar tentang tidak sehatnya bahan pangan ini. Bagi saya, jalan tengah adalah pilihan terbaik. Tidak terlalu ekstrim untuk menghindarinya atau bahkan mendemo pabriknya, naum juga tetap menerima kehadirannya di dapur secara bijak. Karena, tidak semua opini benar. Misalnya, kandungan lilin, pewarna, pengawet, dan minyak. Pewarna, pengawet, penyedap dan minyak memang benar keberadaanya namun semua masih dalam batas aman. Tentang lilin, belum ada sumber terpercaya yang bisa dirujuk. Lalu, trik apa yang perlu diperhatikan ?

Pertama, jangan gunakan air rebusan mi. Ini bertujuan untuk mengurangi kadar minyak, pewarna, dan pengawet yang ikut termakan. Berarti juga mengurangi kadar garam total. Hal ini penting bagi yang sedang menerapkan pola diet garam.

Kedua, masih dalam tujuan yang sama, gunakan sepertiga saja bumbu instannya. Ini pengaruhnya juga besar terhadap pengurangan kadar garam. Karena, sebagian garam yang totalnya sampai 1200 mg tidak benar-benar bertujuan memberi efek rasa asin. Garam ini adalah garam tersembunyi yang meningkatkan cita rasa lezat. Yah, inilah micin. Saya dan keluarga merasa tidak nyaman sehabis makan kandungan micin yang tinggi. Serasa ada sesuatu yang tertinggal di lidah dan rongga mulut. Efek lanjutannya adalah rasa dahaga sebagai gejala alami untuk melarutkan garam.

Ketiga, pengurangan bumbu akan mempengaruhi rasa sehingga mi akan terasa sangat ringan. Hal ini dapat diatasi dengan tambahan sedikit garam asli dan merica bubuk. Jangan ragu juga untuk menambahkan bumbu dapur lain semisal daun bawang, bawang merah dan bawang putih. Tidak harus semuanya. Ketiganya bisa saling subtitusi. Ditumis atau direbus juga bergantung pada jenis olahannya. Saya terkadang memasak mi goreng dengan menggunakan bahan mi instan godok. Kalau harus menambah bumbu asli jadi repot dong? Tak mengapa. Demi kesehatan. Tidak bisa disebut mi instan lagi dong? Tak mengapa. Sebut saja mi rempong !

Keempat, tambahkan sayuran dan lauk. Jauhkan pikiran Anda bahwa mi instan adalah lauk. Sama sekali tidak. Tak perlu mengikuti gayanya mBah Sumini. Mi adalah pengganti makanan pokok. Kandungan karbohidrat dalam mi cukup tinggi maka tidak perlu ditambah nasi lagi. Kalau kandungan karbohirat cukup tinggi mengapa tetap lapar sesat sehabis makan mi ? Bahkan pabrik harus merilis versi jumbo ? Bukan perut anda yang rusak, tetapi itulah jeleknya mi. Meski karbohirat tinggi tetapi kandungan seratnya rendah sehingga tidak bisa mengganjal perut. Mi lebih cepat dicerna, mengakibatkan cepat lapar dan cepat menaikkan gula darah. Makaya kurang baik jika dikonsumsi oleh penderita diabet. Di sinilah pentingnya sayuran dan lauk semisal telur atau ayam sesuai gambar rekomendasi pada bungkusnya. Kedua bahan ini akan menambah rasa kenyang lebih lama. Disamping itu Anda akan terhindar dari pola makan dengan gizi tidak seimbang. Sayur dan lauk mengkopensasi dengan kandungan mineral dan protein yang Anda butuhkan. Oke, selamat memasak mi rempong !

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post