Warnoto Fisika

Lulusan UNY tahun 2000 dari Pendidikan Fisika FMIPA, mengajar di SMA N 1 Subah Kab. Batang Jawa Tengah. Minat pada bidang Teknologi, Arsitektur dan Keagamaan...

Selengkapnya
Ketika Sekolah Menolak Ujian Susulan

Ketika Sekolah Menolak Ujian Susulan

Saat itu Senin, 22 April 2019. Sebelum berangkat ke sekolah saya mampir dulu di SD tempat anakku bersekolah. Niat hati ingin memintakan izin anakku yang sedang demam. Surat ijin dan keterangan sakit dari dokter rumah sakit saya serahkan langsung kepada kepala sekolahnya. Namun apa jawaban pihak sekolah? Kepala Sekolah menghendaki anakku tetap masuk. Beliau beralasan bahwa sekarang kegiatan USBN. Sangat repot administrasinya jika harus mengadakan Ujian Susulan. Lalu apa gunanya ada jadwal Ujian Susulan? Saya mengalah meskipun dalam dua hari ini anakku tidak membuka buku karena merasakan demam, segera kutelephon ibunya di rumah untuk menyiapkan diri. Pihak sekolah akan menjemputnya.

Tampaknya dari gaya bicaranya Ibu kepala sekolah menyalahkan saya mengapa tidak segera ke dokter padahal wali kelasnya sudah melihat gejala anakku sakit sejak hari sabtu. La memangnya kalau langsung ke dokter terus langsung sembuh atau tidak jadi sakit? Tidak semudah itu. Ini akhirnya saya bawa anakku ke UGD malam Senin. Suasana cukup ramai, rata rata pasien anak. Begitu ramainya sehingga sebenarnya kedatangan kami ditolak namun daripada repot lagi mencari Rumah Sakit lain maka saya putuskan untuk menunggu. Akhirnya anakku dapat pelayanan jam sepuluh malam padahal kami datang waktu isya. Rasa kecewaku tidak hanya itu. Ternyata dokter belum mampu mendiagnosa. Kami disuruh datang lagi Selasa sore. Disamping itu kami harus membayar layanan karena kondisi anakku tidak memenuhi syarat kegawatdaruratan. Yah ini mungkin efek pemberian herbal penurun panas ekstrak cacing andalan keluarga sehingga saat diperiksa suhunya tidak mencapai 40 derajat Celsius.

Demikianlah anakku akhirnya mengikuti USBN selama tiga hari dalam keadaan sakit. Sementara saya meninggalkan rumah ke Semarang tiga hari untuk mengikuti Diklat Peningkatan Kompetensi Guru Mapel. Tentu saya selalu memantau perkembangan anakku itu. Masih terfikirkan juga jadwal kunjungan ke rumah sakit lagi yang hari selasa sore itu. Namun sepertinya itu tidak mungkin kalau istriku sendirian yang mengurusnya. Akhirnya Rabu sore setelah dari Semarang kebawa anakku ke dokter keluarga untuk konsul apakah masih perlu dirujuk. Ternyata betul dokter menyarankan rujuk. Selepas magrib kami berangkat ke rumah sakit. Kami menunggu tidak terlalu lama untuk bertemu dokter anak. Setelah diperiksa dokter menyarankan untuk rawat inap. Secara psikologis saya sudah siap namun istri yang di rumah kelihatan resah. Saya berusaha menenangkan. Di hari berikutnya setelah melihat hasil tes darah, anakku terindikasi DBD. Jumlah trombosit hari pertama opname 100 ribu, terendah 88 ribu di hari kedua dan pada fase pemulihan 127 ribu. Saat dirawat inap saya mengabari pihak sekolah agar ujian anakku bisa dilaksanakan di rumah sakit. Namun pihak sekolah menyarankan agar anakku beristirahat dulu. Saya tidak tahu apakah Sekolah merasa bersalah atau jadwal ujian tinggal mapel non nasional sehingga bisa mengikuti Ujian Susulan.

Sepulang dari rumah sakit kubiarkan anak beristirahat dulu. Nanti sekolah lagi selepas kontrol pertama. Namun menjelang jadwal kontrol anakku demam lagi. Parahnya saat itu hujan lebat berjam-jam. Jelas tidak mungkin aku mengantarnya kontrol. Lagi pula ini malam hari. Aku memantau dari beberapa grup wa tentang kondisi lalu lintas. Seperti biasanya ada daerah tertentu yang jalannya rawan banjir. Termasuk lingkungan sekitar rumah sakit. Keesokan harinya dalam kondisi yang masih demam saya ajak anakku untuk cek darah. Kalau hasilnya buruk terpaksa harus ke rumah sakit lagi. Namun saya punya asumsi demam yang sekarang adalah gejala flu biasa meskipun berat. Terindikasi dari hidungnya yang meler. Kemudian hasil tes menunjukkan trombosit telah pulih di kisaran 260 an ribu. Alhamdulillah. Cukuplah dia beristirahat dan makan yang bergizi.

Keesokan harinya ternyata telah memasuki Ramadhan. Dalam kondisi seperti itu kami sebenarnya mentolelir jika dia tidak puasa. Namun niatnya yang kuat membuatnya tetap puasa..Dalam keadaan berpuasa itu juga anakku mengikuti ujian Susulan dari jadwal beberapa hari yang ditinggalkan. Dua hari yang lalu semua telah tunai meski aku tidak tahu bagaimana hasil ujiannya. (*)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post